home Others Proses Pembentukan Karakter pada Anak

Proses Pembentukan Karakter pada Anak

Character cannot be developed in ease and quiet. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, ambition inspired, and success achieved.

Sebuah kutipan dari Hellen Keller, menjelaskan bahwa membentuk karakter itu tidak pernah mudah. Ada banyak hal yang harus dihadapi, ujian yang harus dilewati, dan konsistensi dalam perjalanannya. Apa yang bisa dipelajari dari kutipan di atas? Banyak hal, salah satunya adalah menyadari tentang panjang dan rumitnya proses pembentukan karakter anak.

Seringkali orang dewasa, dalam hal ini orang tua dan pengajar melupakan proses panjang yang harus ditempuh anak guna membentuk karakternya. Sebagian dari kita mungkin ada yang tidak ingin repot, mulai kasihan dengan anak hingga menimbulkan masalah yang lain. Kok bisa?

Beberapa wujud kasihan atau iba kepada anak bisa menjadi boomerang. Meski niatnya baik, tapi bukankah kita semua sudah belajar bahwa tidak selamanya niat baik bisa menghasilkan hal yang baik pula? Ada masanya ketika kita terbiasa membantu anak atas dasar kasih sayang atau kasihan. Padahal sebenarnya, rasa sayang dan kasihan tersebut bisa menjadi faktor yang membuat anak tidak mandiri, bahkan membuat potensi dirinya jadi tidak bisa berkembang secara maksimal.

Karena biasanya kreativitas dan potensi akan muncul ketika kita dihadapkan pada kesulitan, hal yang sama juga berlaku bagi anak. Tapi seringkali, orang dewasa terlalu banyak ikut campur dan melupakan fakta bahwa itu adalah bagian dari proses pembentukan karakternya. Jadi, bagaimana seharusnya orang dewasa bertindak?

Berikan Anak Perhatian serta Pengakuan

Banyak orang masih salah kaprah dengan persoalan mendengar. Sebagian dari kita mendengar untuk menjawab, bukan untuk memahami. Hal tersebut bisa menjadi runyam jika kita tidak bisa membatasi diri. Seolah ingin selalu ikut campur, padahal ada masanya ketika anak bercerita karena hanya ingin didengar.

Karena seringkali orang dewasa memberikan solusi sepaket dengan menghakimi. Hal tersebut akan membuat anak merasa ciut nyali dan enggan membuka dirinya lagi. Oleh sebab itu, orang dewasa (orang tua dan guru) harus belajar untuk memerhatikan anak dengan cara lain, mendengar untuk memahami.

Biarkan anak mencoba menemukan solusi sendiri untuk permasalahannya. Kecuali jika permasalahan yang dihadapi memang membutuhkan bantuan orang dewasa, jangan memaksakan pengalaman kita sebagai solusi atas permasalahan anak.

Kenali Anak dan Gambarkan Emosinya

Emosi manusia tidak bisa diartikan secara sempit sebagai rasa marah. Bahkan bahagia juga masih masuk dalam bagian  emosi. Itulah yang harus dipelajari lebih lanjut oleh orang dewasa. Anak bisa saja merasa kecewa, sedih, kesepian, bosan, takut, marah, bahkan stress. Orang dewasa harus memahami betul perbedaan emosi anak, untuk selanjutnya mempelajari respon yang harus diberikan ketika anak menunjukkan emosinya.

Jangan serta merta memarahi anak hanya karena cara pandang mereka berbeda. Jika menurut pandanganmu, solusi yang dipilih anak kurang tepat, yang harus kamu lakukan hanya memberikan arahan dengan gaya komunikasi yang bersahabat.

Sekali lagi, semoga artikel pendidikan karakter adalah proses membentuk karakter anak tidak pernah mudah. Tapi itu tidak bisa menjadi alasan untuk menyerah. Bukankah demikian seharusnya orang dewasa bertindak?

Like and Share ya 🙂

shares